Manajemen Hammurabi

​MANAJEMEN HAMMURABI

Hammurabi, Raja Babylon sekitar abad 17 SM dipandang  orang pertama yang menetapkan prinsip bahwa manajer bertanggung jawab atas para karyawannya. Hal ini bisa dilihat dari peninggalan hukumnya yang berbunyi: “ Jika pengembang membangun rumah untuk seseorang dan tidak membuat konstruksi yang kuat dan rumah tersebut runtuh sehingga menyebabkan kematian pemillik rumah tersebut, maka pengembang itu harus dihukum mati.”

Menurut Hammurabi, pengembang adalah pihak yang bertanggung jawab penuh atas kelalaian para buruh bangunan. Dari kutipan hukum tersebut, lahirlah sebuah prinsip manajemen ilmiah yaitu pemisahan antara aktivitas bepikir (manajemen) dan aktivitas pelaksanaan (karyawan) yang diprakarsai oleh Frederick Winslow Taylor pada peralihan abad 20 M.

Pada era industri saat ini, abad 21 M, prinsip manajemen ini masih banyak dipakai oleh perusahaan baik skala kecil maupun besar. Secara sepintas sepertinya tidak ada yang aneh dari prinsip manajemen ini jika dilihat dari sudut hierarki perusahaan, yaitu manajemen bertanggung jawab atas kinerja karyawannya. 

Namun, prinsip ini sejatinya menghambat pengembangan sumber daya manusia (people development) bagi perusahaan. Manajemen hanya memperlakukan karyawannya layaknya sebuah mesin, yang diperlakukan untuk menghasilkan sebanyak mungkin keuntungan. Dan karyawan hanya berpikir untuk mengumpulkan gaji sebanyak mungkin dan menolak tanggung jawab untuk tugas-tugas yang lebih besar.

Manajemen Hammurabi hanya akan menghasilkan pemisahan tanggung jawab dan pembenaran terhadap rantai komando dan berkembangnya hubungan antara manajemen dan karyawan yang saling bertentangan, yang seharusnya memiliki kepentingan yang saling berkaitan. Terlebih akan mematikan insiatif karyawan dalam melakukan inovasi-inovasi bagi perusahaan karena tugas karyawan bukanlah pemikir tetapi pelaksana.

Sudah sepatutnya pada era industri saat ini, perusahaan-perusahaan khususnya di Indonesia memikirkan tentang hal ini. Setiap orang dalam perusahaan harus lebih bertanggung jawab, lebih proaktif, lebih bersemangat menggunakan imajinasi dalam merampungkan tugas mereka tanpa ada pemisahan antara manajemen dan karyawan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s